Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini525
mod_vvisit_counterKemarin861
mod_vvisit_counterMinggu ini1386
mod_vvisit_counterMinggu lalu6945
mod_vvisit_counterBulan ini17805
mod_vvisit_counterBulan lalu31484
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1415832
Kami Memiliki: 3 guests online

Home
09
Feb
2018
Evolusi Media Cetak Foto

Evolusi Media Cetak Foto

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Sejarah dunia cetak sering dikaitkan dengan dunia grafika dimana sejarahnya diawali dari cetak letter press oleh Johanness Gutenberg pada tahun 1440. Namun dunia fotografi mempunyai sejarah tersendiri dalam mencetak image. Sejarah cetak mencetak foto mencatat bahwa fotografi dengan merekam objek image diawali dari penelitian kimia Johan  Heinrich  Schulze pada  tahun  1725  tentang  proses kimiawi dengan menggelapkan larutan garam perak dengan bantuan sinar atau cahaya. Penemuan tersebut terus  dikembangkan  dan  disempurnakan  yang  menghasilkan  film  yaitu  suatu medium  yang  peka  cahaya dalam  proses  perekaman suatu  objek  sebagai  upaya penciptaan imaji fotografi.

Kemudian Daguerrotype merupakan sebuah metode atau proses untuk membuat foto yang pertama kali dipublikasikan di dunia. Metode atau proses percetakan ini diciptakan untuk pertama kalinya oleh dua orang sahabat yaitu Louis Daguerre dan Nicophore Niepce di Perancis pada tahun 1834. Niepce adalah orang yang pertama memproduksi dan menghasilkan gambar fotografi dari kamera Obscura dengan menggunakan Asphaltum pada pelat tembaga yang sensitif terhadap cahaya.

Image yang terbentuk di atas lempengan pelat tadi terlihat seperti kaca. Sayang nya, gambar ini dapat dengan mudah terhapus dengan jari dan mudah dioksidasi oleh udara, sehingga sejak awal proses Daguerreotype ini, dilakukan diruang tertutup dan hasil nya di bingkai dengan penutup kaca.

Ketika kita melihat hasil cetakan dari proses Daguerreotype ini, permukaan gelap tercermin ke permukaan kaca perak. Reproduksi dari detail pada foto yang tajam sangat baik dan sempurna sebagian karena permukaan yang benar-benar rata. Walaupun Daguerreotype menghasilkan gambar yang “unik”, gambar ini dapat disalin kembali.

Kemudia ada Cyanotype, proses ini ditemukan oleh Sir John Hershel seorang ahli astronomi dan fisika pada tahun 1842. Hershel juga pencetus istilah ”photography” kepada publik pada tahun 1839. Berbeda dengan temuan Daguerre dan Talbot, proses cyanotype tidak menggunakan perak sebagai material utamanya, sehingga cyanotype termasuk dalam golongan non silver printing. Foto yang dihasilkan dengan proses cyanotype adalah imaji berwarna biru sehingga sering juga disebut dengan istilah “blue print” yang merupakan hasil pencampuran dua larutan kimia logam yaitu potassium ferricyanida dan ferric amonium citrate.

Kemudian, cetak mencetak foto tidak bisa dilepaskan dari negatif (media rekam sebagai acuan cetak foto). Penemu negatif pertama yang hasil cetak postive dibuat adalah Henry Fox Talbot pada tahun 1841. Talbot menyempurnakan proses kertas negatif sebagai acuan cetak dan menyebutnya sebuah calotype (gambar yang indah). Pada tahun 1884, George Eastman menemukan pita film (seluloid) yang terbuat dari plastik tembus pandang menggantikan bahan kertas negatif dan kemudian pada tahun 1891 Eastman dibantu Hannibal Goodwin memperkenalkan satu rol film yang dapat dimasukkan ke dalam kamera sehingga kedap cahaya dan dapat digunakan pada siang hari. Sebelumnya segala proses perekaman hingga cetak foto dilakukan di kamar gelap (kedap cahaya).

Istilah “print foto” (bukan cetak foto) ada setelah hadirnya teknologi Digital Printing yang mulai dikenal secara luas di Indonesia sekitar tahun 2001, ditandai dengan banyaknya printer-printer kualitas photo yang diluncurkan. Banyak jenis teknologi digital printing yang terus berkembang. Yang menonjol pada masa peralihan teknologi cetak chemical ke teknologi lain adalah Teknologi Thermografi, teknik cetak ini menggunakan suhu atau thermal, fungsi pada thermal imaging head adalah sebagai pembentuk gambar yang akan memanaskan sejenis pita (ink donor ribbon) yang menularkan tintanya ke kertas sehingga menghasilkan cetakan. Ada dua macam teknologi, pertama Direct thermal, metode ini tergantung pada lapisan kertas yang mengandung material yang dapat berganti warnanya jika dipanaskan. Kedua Thermal transfer, metode ini lebih kompleks dimana ribbon mencair diatas lembaran kertas saat dipanaskan. Ini juga dikenal sebagai thermal ink transfer printing.

....................................................................................................................  ............................................................................................

Kemudian media cetak foto terus berkembang seiring perkembangan teknologi digital printing, dari teknologi laser, ink jet, dan thermografi yang terus dikembangkan kualitas cetakannya. Tenologi tersebut tidak menggunakan chemical kertas, tapi murni dari tinta yang dicetakkan (dengan acuan) ke kertas. Era perkembangan digital yang pesat menjadikan perusahaan advertising/studio foto melakukan pembaharuan dikarenakan teknologi lama dalam mencetak telah usang dan digantikan oleh teknologi digital printing. Teknologi digital printing ini membuat proses pengerjaan jauh lebih cepat, tidak banyak memakan waktu dan tentunya hasilnya pun tidak kalah dengan cara lama. Selain itu, dengan menggunakan percetakan digital, hasil cetak yang bisa dihasilkan lebih beragam, bisa mencetak dengan berbagai pilihan media cetak dan ukuran. Dengan begitu, digital printing menjawab kebutuhan banyak kalangan, baik perorangan hingga perusahaan yang membutuhkan printing (menggunakan foto) dengan ukuran besar seperti baliho, billboard, dan lain-lain.

Bisnis foto kreatif menjadi masa depan bisnis cetak foto, yaitu bisnis yang memiliki inti bisnis berupa cetak foto digital, namun dikombinasikan dengan produk konvensional. Misalnya photo book, kalender atau produk-produk yang memakai foto. Cara kerja bisnis tersebut dikombinasikan dengan mesin cetak foto berteknologi tinggi, mudah digunakan dan investasinya terjangkau bagi pemilik bisnis. Bisnis seperti itulah diprediksi akan meledak di masa mendatang.

Salam Kreatif.