Home
28
Nov
2019
Dunia Printing Komersial

Oleh : Herman J. Kesumahadi

PIXS (Printing & Packaging Integrated Xtra Solution) Consultant

Printing yang kita tahu saat ini sudah jauh sangat berkembang dibandingkan dengan asal mulanya yang pada awalnya semua dijalankan dengan cara sangat-sangat manual dengan bahan baku seadanya. Proses printing pada awalnya dibutuhkan untuk membuat pamflet/brosur, surat kabar dan buku. Pada saat itu, jika ada packaging suatu produk yang menggunakan elemen printing biasanya hanya sebatas label kertas yang direkatkan ataupun dimasukkan kedalam kemasan tersebut. Atau cetak sablon pada kemasan tersebut.

Commercial printing pada era abad 21 ini tetap berkembang sejalan dengan kemajuan jaman, walaupun banyak orang berasumsi bahwa Commercial Printing sudah mencapai titik jenuh, dan sejak era digital berkembang pesat di akhir abad 20, banyak produk Commercial printing yang tergantikan, seperti surat kabar dan majalah yang sekarang bias dibaca dengan menggunakan handphone, tablet ataupun computer. Disusul dengan brosur digital, online shop, dan lain sebagainya.

Commercial Printing tetap menempati posisinya sendiri di hati masyarakat dalam hal bisnis, produksi, keuangan, dan sektor-sektor usaha lainnya. Walaupun di semua sisi, semua pihak mengurangi pemakaian kertas (yang dikenal dengan istilah “GO GREEN”) dan mengganti dengan data digital, transaksi ...

penjualan kertas tetap tidak akan pernah berhenti dan sampai saat ini pabrik-pabrik kertas masih tetap berjalan kencang dengan produksinya.

Bukti lain adalah masih menjamurnya percetakan offset mulai dari skala kecil, sedang, hingga yang besar. Yang terhitung lebih dari 15.000 percetakan tersebar di seluruh Indonesia dan masih terus bertambah.

Produsen tinta cetak pun berjalan stabil dengan produksinya dan terus meng-update proses, kualitas dan stabilitas produk mereka. Demikian juga dengan produsen pigmen sebagai supplier dari produsen tinta.

Dari sisi customer juga membuka kemungkinan untuk mendapatkan job dari produsen produk multinasional seperti Nestle, P&G, Unilever, CocoCola, dan lain-lain. Dengan tuntutan kualitas yang harus stabil dan sesuai standard toleransi yang mereka berikan. Terkadang mereka juga menuntut adanya setifikat standarisasi yang harus dimiliki oleh percetakan tersebut, seperti ISO-12647, G7, Japan Standard, dan lain-lain.

Commercial printing terus berkembang dlm hal teknologi workflow, mesin prepress, mesin printing, mesin finishing, dan dengan software-software yang sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah proses. Bahkan dengan MIS (Management Information Software) untuk monitoring control seluruh asset dan flow perusahaan. Semua ini didukung oleh worldwide brand ternama seperti Kodak, Agfa, Esko, SAP, Xrite, Techkon, Heidelberg, dan banyak lagi.

Semua alat (software dan hardware) yang di investasi kan oleh perusahaan percetakan bertujuan untuk kemajuan perusahaan, peningkatan income, efisiensi kerja, persaingan mutu dan harga.Semua itu di control juga oleh kualitas Quality Control yang dibantu dengan alat-alat yang canggih dan dapat memberikan laporan yang otomatis setiap saat dibutuhkan.


Satu hal yang terkadang terlupakan oleh management perusahaan adalah asset yang bisa jadi merupakan asset yang paling berharga yaitu Sumber Daya Manusia.

Sumber Daya Manusia tergantung dari tiap-tiap individual itu sendiri, bisa menjadi sumber daya yang sangat berharga untuk perusahaan dimana tempat ia bekerja jika manusia nya sendiri memiliki kemampuan untuk bisa kreatif, teliti, kritis, dan mau mencurahkan pikiran dan kemampuan fisiknya untuk perusahaan, sesuai dengan imbalan yang ia terima dari perusahaan tersebut.

Biasanya perihal imbalan dan dedikasi berjalan selaras, saya banyak melihat perusahaan dalam segala bentuk dan ukuran, ada yang dari atasan sampai bawahan semua bermuka muram dan malas-malasan kerja, tapi ada juga yang semuanya bermuka cerah, ramah, dan biasanya banyak karyawan yang sudah cukup lama bekerja disitu. Semua itu menunjukkan bagaimana hak dan kewajiban dijalankan di perusahaan tersebut.

Dari sisi perkembangan teknologi pada dunia printing, banyak sekali karyawan yang merasa akan tergusur dengan mesin/software terutama generasi senior. Karena dalam hal printing terutama pada sisi Quality Control, generasi senior sebelumnya mengandalkan “feeling” dan kebiasaan dari pengalaman mereka yang sekian tahun bergelut dengan mesin printing. Tanpa mereka sadari bahwa “emosi” juga ikut terbawa, itulah yang terkadang membuat staff tersebut tidak stabil sehingga terlihat kurang professional dalam menjalankan pekerjaannya.

Software/hardware berjalan dengan perhitungan dan kalkulasi yang tepat dan memicu motorik mesin untuk menjalankan tindakannya. Tidak ada “feeling” ataupun “emosi” yang terlibat dalam hal ini, sedangkan staff yang mengoperasikan software/hardware tersebut akan lebih mudah melakukan pekerjaannya, lebih stabil hasil kerjanya, bisa melakukan lebih banyak pekerjaan per harinya, data digital tersimpan lebih teratur rapi, reporting yang lebih baik, dan lain sebagainya.

Manusia akan tergusur oleh software/hardware jika ia tidak ...

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak & on line INDONESIA PRINT MEDIA edisi 91 Nov-Des 2019.

Info : WA +62811808282

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it