Visitor

 
Home
08
Apr
2021
Fotografi, Fotografer, dan Fotogratis

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Industri kreatif berkembang terus, seiring dengan perkembangan teknologi, kreativitas juga terus berkembang dengan berbagai macam permasalahannya sediri. Industri kreatif semakin banyak pelakunya; dari dunia musik, seni pertunjukan, konten televisi, desain fashion, desain interior, desain grafis, film, illustrasi, konten internet, hingga fotografi. Aktivitas industri kreatif Indonesia sedang mencontoh dari negara-negara maju yang menjadikan industri di bidang kreatif sebagai tulang punggung perekonomian negara tersebut.

Indonesia yang memiliki banyak tenaga kerja usia produktif, sehingga memungkinkan untuk menciptakan ide-ide baru di kalangan mereka. Industri kreatif harusnya bisa sebagai penopang perekonomian Indonesia, itulah sebabnya industri ini mulai dilirik dan diharapkan menjadi alternatif lain perkembangan industri saat ini. Salah satu industri kreatif yang banyak dijalani untuk profesi adalah Fotografi. Industri ini tergolong industri kreatif karena ...

 memang sangat kental dengan kreativitas pelaku atau fotografernya yang bisa menjual berbagai macam produk dan jasa. Bisnis fotografi sangat marak, dari menjual karya foto baik berwujud cetakan dan digital, menjual jasa memotret moment penting, menjual jasa edit foto, beserta variasi bisnis dari itu semua.

Mengapa Fotografi Harus Dibayar

Berbeda dengan desain grafis, yang banyak dibincangkan tentang “plesetannya” menjadi desain gratis, di bidang fotografi mempunyai sejarah yang kental dengan teknologi dan peralatan yang mahal. Pertama kalinya ditemukan fotografi, fungsi pertamanya adalah senagai pengganti lukisan yang waktu itu harganya juga mahal. Lalu fotografi hadir dengan kemampuannya menyajikan visual yang sangat realistis sesuai aslinya, hingga jasa fotografi saat itu sangat mahal karena teknologinya yang memang membutuhkan peralatan yang rumit, mahal, dan butuh skill tinggi fotografernya.

Ketika hasil dari karya foto itu bersifat komersil dan ada manfaatnya bagi orang banyak seharusnya pekerjaan ini tidak bisa dilakukan secara gratis, karena untuk menghasilkan sebuah karya yang baik banyak hal yang harus dilakukan seorang fotografer. Dari peralatan, proses yang rumit, belum lagi ide dan kreatifitas tidak muncul dengan tiba-tiba, seorang fotografer harus berfikir keras untuk mendapatkannya. Ketika foto yang diciptakan tidak sesuai dengan keinginan pemesan fotografer harus berupaya keras mengulangi pekerjaannya sampai hasilnya memuaskan, apalagi khusus pekerjaan yang berhubungan dengan moment. Untuk merekam moment (misalnya pernikahan, atau acara resmi lainnya) fotografer memikul tanggung jawab yang sangat berat karena tidak boleh gagal dalam melakukan liputan, dan celakanya jika akhirnya liputan gagal fotografer bisa dituntut ganti rugi terhadap moment yang tidak bisa diulang tersebut. Banyak cerita fotogrfer menyewa baju pengantin termasuk riasnya untuk pemotretan ulang gara-gara kegagalan waktu meliput moment sebenarnya.

Memang ada saat dimana hasil karya foto bisa saja digratiskan atau dibayar seikhlasnya, tetapi dipastikan ada alasan yang kuat mengapa digratiskan. Bisa karena bentuk “hadiah” dari fotografer sebagai salah satu program pemasarannya, misalnya pemotretan produk untuk 50 item dengan harga yang pantas lalu fotografer menggratiskan untuk 2 item foto produk sebagai bonus. Kasus lain yang mirip bisa terjadi foto itu gratis, namun dipastikan gratisnya foto tersebut bukanlah diterapkan ke semua proyek pekerjaannya. Selama iu adalah kegiatan bisnis harus dilakukan dengan koridor bisnis, dan bisnis tidak mengenal harga rugi, tapi selalu mencari margin yang merupakan keuntungan sehingga bisnis tersebut bisa berjalan dengan sehat.

Sumber foto dari website www.diyphotography.net

Karya foto di era digital semakin memanjakan penikmat foto, foto banyak beredar di dunia maya dan dapat dilihat dan dinikmati secara gratis. Orang bisa memilih untuk mencari foto melalui search engine seperti Google atau Bing. Tetapi, untuk penggunaan foto-foto yang tanpa memikirkan masalah hak cipta, tentunya merupakan hal yang tidak bisa dianggap remeh. Hampir semua hal (karya seni, tulisan, foto, gambar, font, dan sebagainya) di internet sifatnya sama, yaitu memperbolehkan untuk dinikmati secara pribadi, tapi tidak untuk diunduh dan digunakan untuk berbisnis dari karya itu. Maksudnya, silahkan saja orang download foto untuk kepentingan pribadi seperti koleksi tampilan pribadi layar smartphone, dibagikan di medsos dengan mencantumkan kredit fotografernya, dan sebagainya. Tetapi janganlah digunakan untuk mencari uang dengan menggunakan foto tersebut, misalnya foto dicetak poster lalu dijual dan mendapatkan keuntungan. Keuntungan inilah masalahnya, secara etika bisnis pemilik foto harusnya juga menikmati keuntungan tersebut, kecuali fotografer sudah “membebaskannya” melepas hak ciptanya dan menjadi milik publik.

Memang beberapa website memberikan foto atau karya lain secara cuma-cuma, tetapi latar belakang karya-karya tersebut kita tidaklah tahu persis. Bisa jadi sudah ada kesepakatan bisnis antara pemilik foto dengan pemilik website tersebut. Ada pula seniman memang sengaja menggratiskan karyanya dengan konsep-konsep tertentu, namun biasanya tidak semua karya seniman itu gratis, karena bisa jadi karena kegiatan amal, atau projek tertentu yang kita tidak tahu ada kesepakatan dengan pihak-pihak tertentu.

Jika sembarangan menggunakan foto yang tersedia di internet tanpa meminta izin terlebih dahulu, bisa saja dituntut oleh pemilik foto tersebut. Ada Stock-Photo yang memungkinkan mendapatkan foto yang bagus tanpa masalah hak cipta, Stock-Photo adalah persediaan foto yang sering dilisensikan untuk penggunaan tertentu. Foto-foto ini tidak memiliki hak cipta sehingga bebas menggunakannya untuk keperluan pribadi mau pun komersial.

Sekarang ada banyak stock photography tersedia di internet dengan kualitas tidak kalah dengan foto-foto yang bisa didapatkan dari Shutterstock, yang merupakan website stock photography berbayar. Di internet sendiri sudah banyak website yang menawarkan stok foto gratis. Kebanyakan foto-foto di website ini menggunakan lisensi Creative Commons, yaitu organisasi nirlaba atau organisasi non-profit yang menyediakan lisensi alternatif untuk hak cipta. Lisensi Creative Commons memungkinkan individu untuk memilih bagaimana mereka menginginkan konten mereka digunakan kembali, diedit, atau didistribusikan ulang. Lisensi yang sering digunakan untuk stock photo adalah lisensi Creative Commons CC0 yang berarti bebas menggunakan foto tersebut baik untuk tujuan komersial ataupun non-komersial.

Apa itu Lisensi Creative Commons ?

Disebut pula sebagai “lisensi CC”, memberikan cara mudah untuk mengelola ketentuan mengenai hak cipta yang melekat secara otomatis pada setiap karya. Lisensi ini memungkinkan karya tersebut untuk dibagikan dan digunakan kembali di bawah persyaratan yang fleksibel dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Creative Commons menawarkan beberapa paket lisensi hak cipta, dan penting untuk mengidentifikasi mana dari lisensi-lisensi tersebut yang dirasa cocok untuk diaplikasikan pada karya. Ada 6 pilihan Licensi:

1. CC BY, artiya boleh menggunakan karya lisensi ini untuk kepentingan komersial. Selain itu, boleh menyebarkan, mencampur, menurunkan, serta mengadaptasi karya itu. Boleh juga menggunakannya dalam berbagai perantara atau bentuk. Dengan satu syarat; selalu tuliskan siapa pencipta aslinya.

2. CC BY-SA, bedanya dengan CC BY adalah ketika mengubah karya dengan lisensi ini, hasilnya harus diberi lisensi yang sama persis. Inilah yang dimaksud dengan SA alias Share Alike.

3. CC BY-NC, sama persis dengan CC BY. Pembedanya adalah NC (non commercial) yaitu dilarang untuk komersial atau mendapatkan keuntungan dari karya itu.

4. CC BY-NC-SA, mirip dengan CC BY-SA. Pembedanya adalah NC (non commercial). Jadi boleh memodifikasi dan mencampurnya sesuka hati, tapi dilarang mendapat untung atas karya itu. Karya turunanya juga harus diberi lisensi yang sama persis, yakni CC BY-SA.

5. CC BY-ND, artinya boleh memodifikasi karya dengan lisensi ini, tetapi boleh menyebarkannya lewat berbagai perantara atau bentuk. Karya ini boleh digunakan untuk kepentingan komersial, tetapi wajib menuliskan penciptanya.

6. CC BY-NC-ND, mirip dengan CC BY-ND. Larangan modifikasi serta kewajiban pencantuman pencipta juga berlaku atasnya. Bedanya adalah pantangan perdagangan, yaitu tak boleh mengambil untung apa pun darinya.

7. CC0 atau CC Zero, artinya pencipta melepas copyright miliknya secara penuh. Karya tersebut menjadi milik publik, siapa pun boleh menyebarkan, memodifikasi, serta mencari untung darinya, dan tidak ada kewajiban penulisan pencipta di sana.

Lisensi CC dapat diterapkan untuk semua jenis ciptaan, tidak hanya karya foto saja, tetapi termasuk materi pendidikan, musik, database, informasi pemerintah dan sektor publik, serta jenis lainnya dari konten kreatif. Satu-satunya kategori ciptaan yang tidak merekomendasikan CC untuk diletakkan di bawah lisensi CC adalah perangkat lunak komputer dan ciptaan yang tidak lagi dilindungi oleh hak cipta atau telah menjadi milik publik.

Etika Bisnis

Dari sisi etika bisnis, harus jelas dari awal substansi transaksinya itu bagaimana, apakah kegiatan sosial atau bisnis, jika bertujuan sosial transaksi dibolehkan bayar dengan semampunya atau seikhlasnya. Namun jika substansi transaksinya adalah berjualan atau bisnis, tidak dibolehkan karena ada unsur ketidakpastian yang juga dilarang oleh agama. Pertama-tama, yang harus dipastikan adalah apa diinginkan oleh pebisnis (fotografer), apakah berbisnis atau bersedekah? Baru kemudian segala sesuatunya bisa dilanjutkan sesuai kaidah.

Sebaiknya dipisahkan antara bisnis dan non bisnis, misalnya kegiatan amal, kegiatan sosial yang dari awal sudah jelas tidak ada keuntungan. Memang suatu pekerjaan tidaklah selalu diukur dengan materi, ketika memang hobi fotografi tidak salah jika membantu orang yang membutuhkan. Untuk tujuan sosial atau yang tidak bersifat komersil bisa saja diberikan dengan cuma-cuma, tetapi perlu diingat sekalipun itu dibayar atau digratiskan tetap saja kualitas dan tanggungjawabnya sama. Jangan pernah berfikir kalau digratiskan lalu mengerjakannya asal-asalan saja, kerjakanlah setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya, karena bisa jadi banyak yang melihat hasilnya dan tertarik untuk memesannya.

Jika berbisnis (bukan kegiatan sosial) fotografi itu memang harus cari untung, karena prinsip usaha adalah mendapatkan penghasilan, tapi mencari keuntungan juga harus dengan cara yang benar. Jangan menggunakan cara-cara menipu atau menyesatkan pembeli. Etika seperti ini bukan masalah ringan yang dengan mudah diremehkan, tapi sudah diatur dalam uu perlindungan konsumen. Bahkan ada sanksi pidananya di UU Perlindungan Konsumen.

Harapan dari Bisnis Fotografi

Selalu ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan dengan fotografi, karena keuntungan yang didapatkan biasanya akan sebanding dengan kerja keras dan inovasi yang dilakukan. Selain itu, pengalaman baru merupakan lanjutan untuk meraih profesionalitas yang lebih baik. Selain itu juga jangan pernah takut untuk mencoba, karena hal ini yang akan menjadi ujung tombak dalam kesuksesan bisnis di dunia fotografi.

Misalnya, saat pandemi ini banyak konsumen yang menggunakan jasa fotografi dadakan untuk berjualan secara online, dan kebanyakan dilakukan oleh UKM yang mencari kesempatan dan peluang bisnis dimasa sulit. Sehingga banyak kesempatan baru bisnis fotografi akan melonjak. Tentunya kedepannya akan terus mengasah kemampuan fotografi untuk bidang apa saja, karena belajar itu bisa dari pengalaman hidup yang bisa dijadikan inspirasi bagi orang lain.

Tentunya pada masa-masa ini sebaiknya tidak menganggap seperti libur panjang, tapi lebih baik dilakukan untuk mempersiapkan sesuatu apabila wabah berlanjut dan ekonomi tidak membaik. Salah satu cara memanfaatkan waktu yang berlebih yaitu untuk belajar dan bereksperimen hal-hal baru, baik teknik fotografi maupun editing foto, hingga kemampuan intelektual fotografer yang terus selalu diasah.

Bisnis yang baik akan terwujud jika memiliki kualitas yang memang tidak perlu diragukan lagi, dan profesionalitas didapatkan melalui berbagai hal dalam perjalan karir yang baik. Keberhasilan selalu berbanding lurus dengan kualitas yang memang dimiliki, semakin mengepakkan sayap wawasan, pengetahuan, serta ilmu, maka seiring pula harapan untuk mendulang kesuksesan tersebut.

(Dari berbagai sumber) Salam Kreatif.

Selengkapnya terdap pada majalah cetak & digital INDONESIA PRINT MEDIA edisi 99 Maret-April 2021

Info : +62811808282