Visitor

 
Home
14
Oct
2021
Fotografi sebagai Penunjang Bisnis Makanan di Masa Pandemi

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Usaha makanan-minuman banyak menjadi bisnis utama atau bisnis sampingan pada masa pandemi untuk mendapatkan penghasilan atau sebagai bentuk “bertahan hidup” pada situasi yang sulit. Dari sebuah survei Snapcart tentang tren masakan rumahan menyebutkan sebanyak 63 persen responden berencana untuk memulai bisnis makanan mereka sendiri, dan tercatat 12 bulan terakhir, data Google Trend menunjukkan pencarian terkait ide bisnis rumahan meningkat sebanyak lebih dari 300 persen.  Sementara pencarian terkait ide bisnis makanan meningkat hingga 250 persen. (Kompas: 22-2-2021)

Pengusaha-pengusaha makanan ini bukan hanya fokus dalam menghadirkan produk makanan yang nikmat, tapi juga mengutamakan kualitas dan bahan makanan yang sehat. Fenomena tersebut menggambarkan keseriusan dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat tentang asupan yang lebih sehat juga meningkat. Media sosial mau tidak mau menjadi ujung tombak ...

pemasaran bagi para pelaku usaha, khususnya bagi para pengusaha kuliner kerena keterbatasan yang ada.

Dengan demikian dibutuhkan kemampuan untuk menyajikan rasa sebuah dagangan kuliner secara apik, melalui tulisan dan visual, bahkan melalui konten video. Kemampuan “membungkus” produk makanan oleh para pelaku usaha dibutuhkan untuk menjual produk serta menambahkan nilai jual agar bisa menjadi bisnis yang berkelanjutan. Hal ini meliputi kemampuan membranding produk, mempresentasikan dari proses pembuatan hingga manfaatnya.

Untuk media visual, tentunya media fotografi menjadi yang terdepan dalam pelaksanaan branding produk tersebut. Secara teori, media fotografi (selain videografi) adalah media yang pas untuk mengenalkan produk makanan karena kemampuannya menampilkan realitas dan bisa digarap menurut konsep tertentu. Disebut terdepan, karena pada masa pandemi orang tidak selalu memasak makanan sendiri, seringkali lebih melilih membeli makanan dari luar, dan mereka mengakses media internet atau media sosial untuk mememilih makanan apa yang mau dikonsumsi. Media digital itu biasanya menggunakan aplikasi di smartphone, dan semua menu menampilkan foto untuk memprentasikan masakan/minuman yang ada.

Fotografi pada Iklan

Penerapan fotografi pada iklan pada dasarnya adalah salah satu bentuk seni visual, tapi perlu diketahui bahwa industri periklanan tumbuh pada kreativitas yang menrupakan bagian dari promosi pemasaran produk melalui foto yang harus benar-benar mengesankan menarik pandangan bagi yang melihatnya langsung. Media Fotografi sangat mendominasi pada iklan-iklan di media online dan media digital pada masa pandemi. Fotografi komersial atau iklan itu ada dua jenis sifat penjualan yang harus dipahami sebelumnya; pertama adalah Hard Selling yaitu menjual produk secara langsung atau terang-terangan ditampilkan produknya. Kedua adalah Soft Selling yaitu menjual produk tetapi tidak ditampilkan secara langsung, tetapi menampilkan pencitraan dengan sutau konsep tertentu.

Foto iklan produk makanan harus mempunyai daya tarik untuk mempengaruhi khalayak dengan kualitas tampilan yang dapat menggugah keinginan untuk merasakan, menikmati suguhan visual seperti yang ditampilkan secara realistik dalam iklan tersebut. Karena pada dasarnya bahasa visual fotografi adalah realita, sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh khalayak pada umumnya, dan diharapkan akan tertarik, terpengaruh, dan membeli produknya.

Ada perbedaan antara tampilan foto makanan pada menu atau iklan komersial dan foto yang disajikan pada media sosial. Tampilan foto-foto makanan yang dicantumkan dalam menu atau iklan biasanya jauh lebih rapi, selain itu makanan yang dipotret pun benar-benar ditata ulang dari awal, berbeda dengan unggahan foto makanan di media sosial yang sudah tersaji secara utuh. Untuk keperluan iklan komersial biasanya diseting dari nol, istilahnya di-styling sendiri oleh fotografer sehingga makanan datang ke masih berupa bahan dasar. Pencahayaan yang dilakukan untuk menciptakan foto makanan komersil juga lebih maksimal. Food photography standar untuk iklan harus memakai lighting tambahan agar hasilnya lebih tajam dan terkesan komersil. Bukan itu saja, seringkali untuk iklan komersial menggunakan fake food atau makanan palsu digunakan untuk menggantikan es krim, es batu, dan berbagai minuman dingin yang sangat susah saat pemotretan dengan lighting yang kompleks.

Untuk foto yang disajikan di media sosial lebih sederhana, biasanya tampilannya mengutamakan keadaan makanan siap saji dengan sudut pandang dari atas. Namun tentunya tergantung juga pemilik brand produknya, jika sudah mempunyai foto iklan komersial biasanya tampilan di medsos juga menyesuaikan. Berbeda dengan UMKM yang bermodal lebih kecil dan alokasi biayanya untuk iklan belum banyak, biasanya mereka meotret produknya secara mandiri tanpa profesional fotografer. Bahkan tidak sedikit dari mereka memotretnya dengan smartphone ala kadarnya.

Media Sosial untuk Bisnis

Masa pandemi seperti sekarang, media sosial menjadi tempat yang tepat untuk melakukan pemasaran produk apapun termasuk kuliner, karena penggunaannya yang gratis  juga menjadi tempat interaksi masyarakat saat ini. Penelitian dari We Are Social dan Hootsuite menyebutkan tingkat penetrasi pengguna media sosial aktif mencapai 42% dari total populasi dunia. Media sosial tersebut ada beragam seperti Instagram, Facebook, Twitter, Whatsapp, Line, Youtube dan sebagainya. Di media sosial bisa menunjukkan daftar menu, foto hidangan, informasi terbaru terkait bisnis kuliner, serta event serta penawaran menarik.

Selain media sosial, ada juga aplikasi-aplikasi transportasi/pesan antar dan toko online yang terbuka lebar untuk melakukan promosi produk kuliner, yang tentunya ada kesepakatan khusus dengan manajemen aplikasi tersebut.  Aplikasi layanan pencarian restoran juga muncul dengan tujuan untuk mempermudah masyarakat menemukan jenis kuliner untuk dinikmati. Untuk memberikan referensi kepada penikmat kuliner, pengusaha dapat mempromosikan bisnis kuliner dengan mendaftarkan diri agar muncul pada daftar pencarian. Di Indonesia aplikasi layanan pencarian restoran sudah menjamur, seperti Zomato, Pergikuliner, Mangan, Foodsessive, Wakuliner, Trip Advisor, Restaurant Finder dan sebagainya. Mendaftarkan resotoran/usaha kuliner di aplikasi ini merupakan cara memasarkan produk makanan secara online yang efektif.

Dari fenomena tersebut, kekuatan promosi kuliner online baik di media sosial, aplikasi layanan pencarian restoran, dan aplikasi layanan pesan antar salah satunya dari foto makanan yang menarik. Sehingga foto makanan menarik dan menggugah selera menjadi kebutuhan utama. Untuk menghasilkan foto makanan yang menggugah selera dan mendapatkan hasil gambar yang bagus dengan menggunakan jasa fotografer yang lebih tahu seluk beluk fotografi makanan. Jika terpaksa menggunakan smartphone, pastikan menggunakan kualitas yang sangat baik mengingat foto tersebut akan menjadi perhatian utama calon pembeli.

Tampilan makanan adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam pengambilan foto. Berikut adalah sekedar tips memotret makanan yang diawali dari komposisi makanan yang disesuaikan ukuran piring dengan makanan yang disajikan. Hindari makanan yang menumpuk atau melampaui ukuran piring sehingga terlihat penuh. Layout makanan sehingga menghasilkan tampilan yang menarik baik dari sisi atas atau depan disesuaikan angle foto yang diinginkan.

Kemudian cahaya yang memadai baik sumber yang berasal dari lampu ataupun cahaya alami, misalnya memotret di dekat jendela dengan sumber pencahayaan alami dari matahari. Tak kalah pentingnya angle pemotretan menentukan hasil foto yang menarik. Harus dicoba dari berbagai angle untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Dari sisi tampilan warna, makanan dengan banyak warna terlihat lebih menarik dan menggugah selera.  Jika makanan tersebut polos bisa disiasati dengan menambahkan sayuran agar menghasilkan gambar yang lebih menarik. Juga bisa menggunakan properti peralatan makan seperti sendok, garpu, ataupun kain serbet berwarna agar objek terlihat lebih menarik.

Setelah pemotretan, perlu kiranya diedit hasilnya menggunakan aplikasi editing foto yang tersedia. Seperti menambahkan brightness, mempertajam, kontras warna, memberikan efek blur, akan menjadikan hasil foto semakin bagus. Kemudian terakhir, foto harus disesuaikan dengan ketentuan upload foto. Setiap aplikasi atau medsos punya standar masing-masing yang harus diikuti demi tampilan yang maksimal. Misalnya pada sebuah aplikasi mengharuskan jumlah foto minimal 5 (lima), ukuran maksimal 500 KB, Rasio square (1:1) dengan ukuran 500x500 pixel. Kemudian foto hanya menampilkan makanan (tidak ada unsur lain), foto harus diberi nama sesuai dengan menu pada aplikasi, format foto adalah JPEG, dan sebagainya. Hal-hal teknis itu harus diikuti agar pada saat upload foto tidak ada kendala.

Konsep Branding dengan Foto

Konsep branding dari produk bisa dibuat dari ide-ide yang ada, baik dari pemilik produk atau “dibuatkan” oleh tim marketing. Beberapa tema pendekatan yang sering dipakai oleh fotografi makanan dalam iklan antara lain, ...

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak & online INDONESIA PRINT MEDIA, edisi 102 Sept-Okt 2021

Info WA : 0811808282