Visitor

 

Sosial Media

Home Kilas Berita Teknologi ISO Tinggi Fotografi
09
Dec
2021
Teknologi ISO Tinggi Fotografi

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Pengetahuan dasar fotografi yang sering dikenalkan adalah prinsip segitiga eksposure, dimana fotografer wajib memahami prinsip kerja Shutter Speed, Diafragma, dan ISO. Kali ini kita lebih detail membahas tentang ISO yang diartikan sebagai tingkat sensitivitas sensor pada kamera terhadap cahaya. ISO (International Organisation for Standardisation) adalah suatu ukuran yang menentukan tingkat kepekaan sensor kamera, yaitu CMOS/CCD terhadap cahaya yang ditangkap kamera. Sehingga semakin tinggi ukuran ISO sebuah kamera, maka tingkat sensitivitasnya terhadap cahaya akan semakin tinggi.

Sebelum teknologi digital, satuan ISO juga sering disebut ASA (American Standart Association) sudah digunakan pada media film, yaitu antara ISO 100, 200 dan 400. Sehingga setingan memilih ISO tidak bisa diubah-ubah karena tingkat sensitivitasnya terletak pada film, dan kamera hanya menyesuaikan.

Mengatur ISO pada kamera untuk mendapatkan ...

hasil terbaik saat memotret di segala kondisi, misalnya saat kondisi objek atau situasi yang minim cahaya maka setting kameran dengan ISO tinggi agar sensor lebih sensitif menangkap cahaya. Dalam penggunaan ISO kamera harus diketahui dampak yang dihasilkan ISO tinggi dan ISO rendah. Sehingga bisa mengatur settingan ISO pada kamera dengan benar dan mendapatkan hasil foto yang bagus. Dampak tersebut yaitu; apabila menggunakan ISO tinggi, maka sensor kamera menjadi semakin sensitif, foto yang dihasilkan semakin terang, tapi noise yang dihasilkan semakin kuat. Sebaliknya jika menggunakan ISO rendah, maka tingkat sensitif sensor kamera akan semakin rendah dan kualitas foto yang didapatkan semakin baik dan tajam.

Nilai ISO menentukan seberapa besar kemampuan sensor menangkap cahaya, tetapi apakah semudah itu menggunakan setingan ISO tinggi jika memotret dalam kondisi low light? Ada kendala saat penggunaan ISO yang terlalu tinggi, yaitu akan menimbulkan noise yang tinggi pada foto. Berdasarkan ilustrasi diatas, bisa dilihat bagaimana sebuah pertandingan pemakaian ISO tinggi terhadap noise pada hasil foto.

Teknologi ISO tinggi

Foto noise karena pemakaian ISO tinggi, dahulu sangat mengganggu fotografer dalam melakukan pemotretan dengan kondisi cahaya rendah, tetapi sekarang tidak perlu terlalu takut menggunakan dengan ISO tinggi karena teknologi kamera yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengatasi noise yang muncul.

Ada fitur Noise Reduction pada setingan kamera terkini, selain itu juga bisa menggunakan software seperti Lightroom atau Photoshop untuk memperbaiki kualitas foto yang ada. Untuk memotret dalam kondisi cahaya yang remang-remang dan ingin hasilnya terhindar dari noise, maka bisa bermain dengan shutter speed, yaitu bisa menggunakan shutter speed rendah agar cahaya yang masuk lebih banyak.

Teknologi terkini untuk ISO  memungkinkan fotografer menggunakan ISO yang sangat tinggi (diatas 800 bahkan hingga angka puluhan ribu) saat sumber cahaya yang tersedia sangat sedikit, terlebih saat membutuhkan shutter speed yang tinggi, dan saat tidak ingin menggunakan lampu flash dan tidak membawa tripod. Hampir semua kamera SLR generasi terbaru memiliki teknologi pengurang noise (noise reduction) yang sangat handal, sehingga fotografer bisa memotret sampai dengan nilai ISO puluhan ribu dengan hasil yang masih sangat layak.

Selain itu fotografer bisa memanfaatkan software Noise Reduction yang canggih saat memproses foto di komputer. Misalnya software Noise Ninja, Noiseware, atau Dfine sangat ampuh menyisihkan noise dari foto anda secara cepat dan mudah. Tapi di luar itu, kamera terkini dengan teknologi noise reduction yang canggih seolah tidak butuh lagi software penghilang noise. Di sisi lain, tidak semua noise yang muncul dalam foto wajib disingkirkan, kadang foto justru tampak artistik dengan adanya noise yang timbul.

Hal terpenting adalah pemahaman pengaturan ISO pada kamera digital tidak seperti kamera film, mengubah ISO seolah tidak lagi menimbulkan perubahan fisik apa pun pada kamera, bahkan sebaliknya nilai ISO memberitahu kamera untuk meningkatkan kecerahan piksel hingga hasil akhir pada data digital masih terjaga kualitasnya. File RAW menyimpan voltase yang sebenarnya sebelum perubahan kecerahan terjadi, nilai-nilai dalam file RAW akan tetap sama terlepas dari pengaturan ISO. Sehingga, jika fotografer memotret objek dalam format RAW saja, pengaturan ISO seolah sama sekali tidak melakukan apa-apa. Namun, klaim tentang pengaturan ISO tidak mempengaruhi output RAW, ternyata belum bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Belakangan ini, sebuah brand kamera terkenal (Canon ME20F-SH), menawarkan kamera multifungsi yang super sensitif terhadap cahaya, yaitu dengan tingkat ISO hingga 4.000.000 (4 juta). Sehingga kamera ini dapat merekam gambar di kondisi yang sangat gelap, bahkan ketika mata manusia tidak dapat melihatnya. Kamera dengan kemampuan sensitivitas cahaya yang sangat tinggi ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya mengambil foto alam liar di malam hari, pengamatan, hingga untuk sistem keamanan di mana teknologi kamera konvensional (termasuk CCTV) tidak bisa melakukannya. Sayangnya, kamera ini tidak bisa digunakan untuk mengambil gambar foto, hanya untuk merekam video saja.

Kapan Menggunakan ISO Rendah/Tinggi?

Pemakaian ISO yang tinggi ini memang sering membingungkan, misalnya bagaimana rumusan baku untuk memilih ISO yang tepat, hubungannya dengan berapa speed yang dianggap aman untuk mencegah foto goyang. Namun ada saran untuk penggunaan ISO diawali dengan angka terendah (misalnya 100), kemudian jika shutter speed dan diafragma tidak lagi mencukupi kebutuhan exposure, maka nilai ISO bisa dinaikkan hingga kebutuhan cahaya terpenuhi. Kamera terkini menyediakan pilihan ISO yang tersedia hingga nilai tertinggi (misalnya dapat di-push hingga angka ratusan ribu), tetapi tetap diprioritaskan penggunaan ISO dengan angka lebih randah.

Sebelum memotret harus dipertimbangkan apakah harus memotret dengan ISO tinggi atau rendah, pertama adalah cahaya pada objek foto, jika memotret di luar ruangan dengan cahaya matahari yang cukup, maka disarankan memakai ISO rendah. Sebaliknya jika memotret objek yang minim cahaya, harus menaikkan ISO agar foto tidak terlihat gelap. Kedua adalah objek yang ditangkap bergerak atau diam, jika objek tidak bergerak/diam bisa pakai ISO rendah. Namun jika objek yang difoto bergerak dan cahayanya sangat minim, maka ISO harus dinaikkan. Ketiga adalah jika pemotretan menggunakan tripod bisa diimbangi penggunaan ISO rendah pada situasi minim cahaya, sehingga shutter speed harus diperlambat  agar foto tidak goyang/blur.

Hal terpenting memang harus menegenali kamera masing-masing, karena setiap kamera mempunyai fitur dan teknologi yang berbeda, untuk masalah ISO  bisa diperiksa hal-hal berikut ini :

• Tahun berapa kamera dibuat, karena kamera generasi baru semakin baik teknologinya untuk mengatasi noise di ISO tinggi

• Ukuran sensor yang digunakan kamera, hal ini menunjukkan makin besar sensor akan makin rendah noisenya di ISO tinggi

• Berapa nilai ISO terendah dan tertinggi yang bisa dipilih, untuk kamera yang baik nilai ISO terendah bisa dibawah 100 (misalnya 50), mengingat teori di awal adalah semakin rendah ISO semakin lembut gambar yang dicapai.

• Fasilitas ISO ekspansion (misalnya H1, H2, dst), kondisi ini kamera bisa memaksimalkan kemampuannya hingga nilai tertinggi (misalnya nilai ISO sampai 400 000)

Ada berbagai tips praktis dari fotografer untuk penggunaan ISO, salah satunya ...

selengkapnya terdapat pada majalah cetak & digital INDONESIA PRINT MEDIA edisi 103 Nov-Des 2021

info 0811808282

Salam Kreatif

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!